Feature Human Interest
PERJUANGAN HIDUP PENYANDANG DISABILITAS Dok. Pribadi “Ah, nya timana atuh barang tuang teh pami teu ngaharepkeun ka nu belas asih, nu ridho sareng nu ikhlas mah,” lirih Emid, seorang lelaki paruh baya asal Ciromed, Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sesekali, Emid mengusapkan tangan tua renta ke wajahnya, menandakan air mata hendak jatuh ke pipinya yang telah keriput. Terlahir sebagai anak yang berbeda dari yang lain jelas membuatnya sedih dan kecewa. Kondisi kedua kaki yang hanya sampai pada lutut, tak ada pergelangan kaki, tak ada telapak kaki yang mampu dipijaki, dan tak ada jari jemari yang menari di atas bumi. Tak bisa memakai alas kaki, tak bisa memakai celana panjang, tak bisa berdiri sejajar dengan orang lain, tak bisa main bola, tak bisa melakukan apa yang biasanya anak laki-laki lakukan, dan itu semua harus Emid telan sebagai sebuah kenyataan yang mendalam. Bukan perkara mu...