Feature Human Interest






PERJUANGAN HIDUP PENYANDANG DISABILITAS  

 


Dok. Pribadi
“Ah, nya timana atuh barang tuang teh pami teu ngaharepkeun ka nu belas asih, nu ridho sareng nu ikhlas mah,” lirih Emid, seorang lelaki paruh baya asal Ciromed, Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sesekali, Emid mengusapkan tangan tua renta  ke wajahnya, menandakan air mata hendak jatuh ke pipinya yang telah keriput.

Terlahir sebagai anak yang berbeda dari yang lain jelas membuatnya sedih dan kecewa. Kondisi kedua kaki yang hanya sampai pada lutut, tak ada pergelangan kaki, tak ada telapak kaki yang mampu dipijaki, dan tak ada jari jemari yang menari di atas bumi.

Tak bisa memakai alas kaki, tak  bisa memakai celana panjang, tak bisa berdiri sejajar dengan orang lain, tak bisa main bola, tak bisa melakukan apa yang biasanya anak laki-laki lakukan, dan itu semua harus Emid telan sebagai sebuah kenyataan yang mendalam. Bukan perkara mudah untuk memahami kuasa Tuhan, butuh pemahaman, kesabaran dan berserah diri atas apa yang Tuhan takdirkan kepadanya.

Dengan usia 63 tahun, usia yang seharusnya rehat, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati kuota hidup dengan sebaik-baiknya, lagi-lagi mesti ditelannya dalam-dalam. Karena kini, Emid hanya tinggal sebatang kara di Ciromed, Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang. Orang tua Emid telah tutup usia sejak lama.  Sebenarnya anggota keluarga yang lain masih ada, namun jaraknya cukup jauh dari kediaman Emid. Karena itu, tak ada anggota keluarga yang menjenguk Emid dikarenakan ongkos kendaraan yang mahal.

Setiap hari, Emid datang ke pasar tradisional Ujung Berung, Kota Bandung. Mulai sekitar pukul 04.30 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB, Emid mulai menggantungkan dirinya pada belas kasihan orang-orang yang dermawan dan mau menyumbangkan sedikit hartanya untuk sekedar mengisi perut dan menjinakkan cacing-cacing yang terus mengaung minta makan. Emid yakin, pasti selalu ada orang-orang yang sadar bahwa sebagian harta yang dimilikinya terdapat harta hak orang lain yang membutuhkan.

Pasar tradisional memang identik dengan sampah yang berserakan, becek, dan bau. Teras yang  beralas tanah ditambah solokan penuh sampah harus Emid jadikan teman yang ramah tamah. Fisiknya yang berbeda, membuat Emid harus seolah-olah bertekuk lutut dihadapan orang-orang yang berlalu lalang. Tidak ada kursi atau bahkan sehelai alas duduk yang bisa Emid pakai. Baju yang dikenakan pun terlihat lusuh dan seadanya juga topi coklat yang kusam guna melindungi kepala berambut putih dan tipis.

Emid tidak meminta-minta

Setelah sampai di Pasar Ujung Berung, Emid hanya diam di satu tempat. Walaupun keadaannya bisa membuat prihatin orang lain lalu memberikan sedikit hartanya, Emid tak pernah meminta dengan menengadahkan tangannya layaknya seorang pengemis pasar yang berkata bahkan memaksa minta uang. Emid hanya diam dan berserah diri kepada Allah berharap rezekinya dititipkan kepada orang-orang dermawan di pasar.

“Ai nyuhunkeun mah tara abi mah, tapi pami aya nu masihan ridho, ikhlas, bade ageng atanapi alit ge teu sawios. Alhamdulillah, sakedik-kedikna ge ti Gusti nu Maha Suci kedah disyukuran,” ucap Emid, dengan logat Sundanya. Mulut Emid tak berhenti-hentinya mengucap syukur kepada Allah ketika Ia mendapatkan rezeki dari orang-orang dermawan. Emid selalu berdoa atas mereka yang baik kepadanya, yang tak pernah pelit terhadap orang kecil, yang selalu berbagi dengan orang pinggiran.

Panas dan teriknya matahari yang terasa di jalanan harus selalu dilalui Emid. Apalagi berjalan dengan kaki kecil yang ukurannya berbeda antara kiri dan kanan. Jika dalam pandangan orang-orang normal, Emid seperti berjalan dengan lututnya bukan dengan telapak kakinya. Sungguh keadaan dimana orang-orang yang normal harus selalu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan.

Manusia tak ada yang sempurna, itulah kalimat yang harus diterapkan pada benak setiap orang. Emid sadar bahwa dirinya tak sempurna, namun Emid yakin dibalik ketidaksempurnaan itu, Allah telah mengatur skenario indah yang kelak akan Emid perankan di dunia atau bahkan di akhirat bersama dengan orang-orang yang membantu kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, mari kita senantiasa untuk terus mensyukuri apa yang Allah SWT beri.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kaleidoskop SR Iboe Inggit Garnasih Bandung

Puisi "Kyaiku Pahlawanku" karya Nina Nuriyah

Cerita Syifa, Wanita Muda Tekuni Bisnis di Tiga Jenis