Kaleidoskop SR Iboe Inggit Garnasih Bandung
Berawal
dari Antusiasme, Komunitas Ini
Motori
Edukasi Warga RW. 05 Lio Genteng
BANDUNG--
“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka
matilah sejarah sebuah bangsa”, itulah kutipan seorang sastrawan Indonesia
terkenal, Pramoedya Ananta Toer yang mengakar pada angkatan muda Lio Genteng,
Bandung. Sebuah komunitas rumah belajar lahir dari besarnya antusiasme
masyarakat atas peringatan bulan cinta Iboe Inggit Garnasih yang
diselenggarakan komunitas Lokra bekerja sama dengan komunitas pemuda Lio
Genteng, Newcastle. Misi utamanya adalah pelajari sejarah dan apa yang bisa
dipetik dari sejarah.
Rumah
belajar yang diberi nama Sakola Ra’jat (SR) Iboe Inggit Garnasih telah berdiri
sejak 17 Maret 2017. Dinahkodai oleh Gatot Gunawan, SR ini telah tumbuh sebagai
rumah edukasi bagi anak-anak, pemuda, bahkan para orang tua warga RW. 05, Jalan
Lio Genteng, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung.
Program
belajar yang berfokus pada sejarah dilatarbelakangi olehkarena khawatirnya pemerosotan mental dan budi pekerti anak-anak
zaman sekarang, khususnya di Lio Genteng. Walaupun mengenyam pendidikan formal,
namun itu dirasa kurang dalam mendidik budi pekerti anak-anak. “Iya itu
alasannya kenapa tertarik belajar sejarah enggak matematika atau apa gitu,
karena kan kalo yang gitu-gitu mah udah dipelajari di sekolah. Justru kita
ambil yang esensial, yang urgent lah
di masa sekarang”, jelas Gatot Gunawan, penanggung jawab sekaligus pengajar SR.
Secara
historis, wilayah Lio Genteng adalah tapak tilas tokoh wanita terkasih sang
pencetus Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno. Situs Rumah bersejarah Iboe
Inggit Garnasih pun terletak kurang lebih 100 meter dan berseberangan dengan
Lio Genteng. Itulah mengapa dinamai SR Iboe Inggit Garnasih agar warga sekitar
terbuka kembali memorinya tentang siapa itu Iboe Inggit dan apa yang sudah ia
lakukan untuk bangsa ini. Bahkan para nenek dan kakek warga sekitar pun pernah
bertemu langsung dan bertransaksi jual beli di rumah Beliau. Karena pada zamannya,
Iboe Inggit pernah berjualan bedak, jamu, dan lain sebagainya.
Dengan
mempelajari sejarah, anak-anak di SR dapat mengetahui tentang tokoh-tokoh besar
Indonesia. Mereka yang kini dianggap sebagai orang besar pasti memiliki kisah
perjuangan yang mengharu biru, kisah jatuh bangun sang tokoh, hingga
kesuksesannya yang berbuah hasil untuk kehidupan bangsa.
Dari
kisah tersebut, para penggerak SR ingin anak-anak dapat memetik pelajaran
berharga yang bisa ditanamkan pada kepribadian dan budi pekertinya sehari-hari.
“Sasarannya sih lebih ke budi pekerti dari sejarah ini teh, mental, terus
kepribadian karena kan endingnya buat
warga Lio Genteng itu sendiri. Soalnya yang baik itu kan bisa menyesuaikan
antara hubungan Tuhan dan hubungan sesama”, tuturnya.
Segala
sesuatu yang berhubungan dengan sejarah dipelajari di SR Iboe Inggit, di
antaranya: ejaan lama, bahasa Belanda, seni budaya seperti koreografi dan
tarian berlatar belakang sejarah. Bahkan saat mengikuti proses belajar
mengajar, baik pengajar ataupun anak-anak diharuskan memakai seragam ciri khas
sekolah zaman dahulu. Hal tersebut dirasa perlu, karena SR berkonsep sejarah maka
sedetail apapun perlu diberikan dan diterapkan kepada anak-anak.
Secara
historis, hubungan Indonesia dengan Belanda begitu kuat. Terbukti dengan
banyaknya literasi, buku-buku, tulisan, dan arsip berbahasa Belanda yang
tersebar di Indonesia. “Iya berarti kalo belajar sejarah, terus gak belajar
bahasa Belanda kan kaya ada yang kurang. Jadi mau tidak mau karena literasinya
berhubungan dengan Belanda berati kita harus bisa bahasa Belanda. Terus
anak-anak juga biar gak kaget kalo nemu buku, arsip yang berbahasa Belanda”,
sambungnya.
Sejak
berdiri, SR selalu menunjukkan eksistensinya sebagai komunitas peduli
pendidikan dan sejarah. Masyarakat ikut merasakan dampak dan pengaruh baik atas
adanya SR Iboe Inggit. Ketua RW. 05 Lio Genteng, Sumi mengatakan terbentuknya
SR ini memberikan dampak positif bagi anak-anak, remaja, bahkan para orang tua.
Kegiatannya membuat aktivitas anak-anak khususnya lebih terarah dan kampungnya
menjadi lebih hidup.
Salah
seorang murid SR Iboe Inggit, Muhammad Yasal Shidik merasa senang dapat
bergabung dan belajar di SR karena bertemu dengan banyak teman baru, belajar
hal-hal baru yang tidak dipelajari di sekolah seperti bahasa Belanda, lagu-lagu
kebangsaan negara lain, hingga lagu Indonesia Raya 3 Stanza.
Dengan
melakukan pendekatan dari yang dewasa terhadap anak-anak di luar jam belajar,
Gatot Gunawan berharap SR ini ada regenerasi yang akan terus maju dan
berkembang. Karena bagaimanapun, SR Iboe Inggit telah memberikan pengaruh besar
terhadap lingkungan RW. 05 Lio Genteng. Anggota-anggota dewasa senantiasa
membimbing anak-anak belajar keorganisasian, agar ke depannya bisa
mempertahankan dan mengembangkan SR ini. Lantas, sampai kapan SR Iboe Inggit
akan terus menunjukkan eksistensinya?
Comments
Post a Comment