Corona, Si Makhluk Kecil Pembawa Malapetaka

Oleh: Nina Nuriyah
NIM. 1174050114
Kelas : Jurnalistik 6C


Foto: Wahyo (47) pedangang gorengan keliling di
Kecamatan Cikampek, Karawang, Rabu (22/04/20)



KARAWANG-- “Ya takut juga sama corona tapi mau gimana lagi, kalo gak jualan ya gak makan”, begitulah ungkapan Wahyo (47) penjual gorengan keliling. Ia berkumis, badan agak berisi, memakai topi rimba coklat bercorak, berbaju biru persib, dan duduk dengan bangku plastik di depan gerobaknya.

Wahyo adalah seorang perantau asal Brebes Selatan, Jawa Tengah. Sekarang, Ia tinggal di Kebon Kangkung, Krajan, Kecamatan Cikampek, Karawang. Bersama istri dan anaknya, ia menggantungkan nasib pada segerobak gorengan.

Saat ditemui Rabu 22 April 2020, Wahyo mangkal di pinggir jalan ramai yang banyak dilalui kendaraan. Tepatnya, Ia berada di pinggir Stasiun Cikampek. Ketika itu, Ia menyapa kami dengan ramah dan bercerita bahwa ada 2 orang anaknya yang tidak tinggal bersamanya. Melainkan, mereka tetap di Brebes dan sedang menempuh studi di tingkat universitas dan sekolah menengah atas (SMA).

Setiap jam tiga sore, Ia berangkat dari rumah sambil mendorong gerobak gorengannya. Kulit keriput nan coklat menandakan usianya yang tak muda lagi dan terlalu lama terpapar sinar matahari.
Ia berkeliling menjajakan gorengannya. Biasanya, Wahyo mangkal satu jam di suatu tempat, berharap ada pembeli yang datang. Saat matahari mulai tenggelam, Wahyo kembali pulang ke rumah, proses jual beli telah selesai.

“Jualan dari jam 3 sore, terus beres jam 6. Kadang-kadang kalo abisnya cepet, setengah 6 juga udah pulang,” kata Wahyo, dengan logat Jawanya yang medok.


Hasil dari berjualan dalam seharinya sekitar 300 ribu rupiah. Cukup untuk membeli keperluan hidup istri dan anaknya sehari-hari. Namun, ketika pandemi Covid-19 datang, Wahyo mengaku penghasilannya menurun. Kini, Ia hanya bisa menghasilkan uang sekitar 200 per hari saja.

Dampak virus itu memang sangat merugikan, terutama bagi Wahyo dan para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari penghasilan per hari. Ia bercerita, ingin kembali ke kampung asalnya Brebes. Namun apadaya, ongkos tidak ada, tidak bisa pulang.

“Inginnya mah pulang ke Brebes. Tapi gimana, ongkos gak punya. Kalo gak jualan kan gak dapat uang,” lanjut Wahyo.

Ketakutan terhadap sangarnya virus corona, selalu dirasakan Wahyo. Apalagi Ia harus menjajakan dagannya ke tiap kampung dan bertemu dengan para pembeli. Namun, nasib berkata lain. Keuangan yang menipis membuat Wahyo harus tetap berjualan demi sesuap nasi.

“Di rumah juga uang simpenan gak ada, habis terus. Jadi saya harus jualan terus yang penting ada buat makan,” dalih Wahyo sambil menundukkan kepalanya ke arah bawah.

Sampai saat ini, Wahyo mengaku belum mendapat bantuan dari pemerintah setempat terkait pandemi ini. Padahal, ia ingin segera mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat, walaupun ia hanya perantauan.

“Harapannya mah ingin dikasih bantuan, kalo gak ada bantuan ribet juga, mau makan dari mana. Jualan juga bisanya bawa sedikit, jadi penghasilan kurang. Walaupun saya perantauan dari Jawa, tapi kan orang Jawa juga masih orang Indonesia,” pungkasnya sambil bernada tegas.  

Comments

Popular posts from this blog

Kaleidoskop SR Iboe Inggit Garnasih Bandung

Puisi "Kyaiku Pahlawanku" karya Nina Nuriyah

Cerita Syifa, Wanita Muda Tekuni Bisnis di Tiga Jenis