Corona Virus dan Dampak Psikologisnya
Oleh: Nina Nuriyah
NIM: 1174050114
Jurnalistik 6C
NIM: 1174050114
Jurnalistik 6C
Sejak diumumkannya kasus pertama Covid-19
di Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada (2/03/2020), masyarakat mulai
terkena imbasnya. Sejak itu, media berbondong-bondong memberitakan siapa, di
mana, dan kenapa WNI tersebut positif Corona. Masyarakat terus dicekoki
pemberitaan-pemberitaan terkait virus ini, tanpa bisa dipilah pilih. Akibatnya,
fenomena Covid-19 ini menimbulkan dampak bagi psikologis masyarakat.
Seorang dosen Fakultas Psikologi UIN Sunan
Gunung Djati Bandung, yang juga sekaligus psikolog, Dr. Agus Mulyana, M. Psi.,
Psikolog, memberikan materi saat diskusi Hima Jurnalistik digelar. Ia
menyampaikan materi dengan begitu apik dan mengerti kondisi psikologis peserta,
ketika diskusi dilakukan via online.
Menurutnya, dampak fenomena Covid-19 yang
paling umum, jika dilihat dari sisi psikologis adalah panik. Sesuatu yang
tiba-tiba dan tidak diantisipasi sebelumnya sudah pasti akan menyebabkan panik.
Panik itu biasanya terjadi tiba-tiba dan dalam waktu yang singkat. Biasanya,
setelah bisa ditangani dan diantisipasi maka kepanikan akan hilang dengan
sendirinya.
Tapi, bagaimana jika kepanikan itu tidak
hilang-hilang dan malah semakin menguat? Nah itu bukan panik lagi namanya, tetapi
meningkat menjadi cemas. Cemas biasanya terjadi dalam jangka waktu yang relatif
lebih lama daripada panik. Akan menjadi bahaya, jika kecemasan yang terjadi tidak
menghilang, bahkan menetap dan menjadi gangguan.
Para psikolog yang tergabung dalam
Himpunan Psikolog Indonesia (Himpsi) sepakat, jika seseorang yang panik, cemas,
atau stress, akan lebih rentan terkena penyakit atau Virus Corona. Mengapa? Karena
ketika seseorang sedang panik, cemas, atau stress, daya tahan tubuhnya atau sistem imunnya akan menurun. Sehingga ia lebih rentan terkena penyakit termasuk terinfeksi Virus Corona.
Kemudian, tepat satu hari setelah
pengumuman resmi WNI yang terpapar virus corona, terjadilah perilaku panic
buying. Perilaku Panic buying ini merupakan reaksi terhadap
ketakutan akan langkanya barang-barang kebutuhan pribadi. Hal ini dipicu oleh
faktor psikologis yang ditimbulkan akibat panik dan cemas yang sebelumnya sudah
dirasakan masyarakat.
Sebenarnya, panik dan cemas terhadap Covid-19
sah-sah saja. Selagi itu masih normal dan bisa mengontrol diri. Namun, jika sudah
tidak bisa mengontrol diri, itu yang bahaya. Karena energi kita akan habis
memikirkan kepanikan dan kecemasan yang dirasakan, sehingga malah mudah terkena
penyakit.
Sebagai seorang psikolog, Agus Mulyana
memberikan solusi terkait fenomena ini. Solusi yang paling mudah untuk
diucapkan adalah tetap tenang dan berpikir positif. Untuk bisa tenang, kita
harus mengembangkan cara berpikir yang lebih positif. Salah satu caranya dengan
memiliki keyakinan bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Selain itu, tentu
saja dengan mengikuti pola hidup sehat dan anjuran-anjuran medis seperti, menjaga
kebersihan, memakai masker, rajin cuci tangan, dan sebagainya.
Lalu bagaimana agar pikiran kita bisa
positif? Hindari berita yang negatif dan lebih banyak cari berita positif. Coba
bayangkan, jika setiap saat selalu ada berita-berita tentang bahayanya Covid-19
yang di-share melalui grup-grup media sosial. Hal tersebut akan membuat kita
pusing, tambah panik dan tambah cemas. Maka dari itu, kurangi akses membaca
informasi negatif, apalagi menjadi penyebar berita negatif.
Kemudian timbul tanggapan, tapi saya ingin
berbagi informasi, lalu bagaimana? Hal yang mesti diingat adalah setiap orang
memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi suatu informasi. Mungkin bagi
orang-orang tertentu, membaca berita negatif tentang Covid-19 itu tidak jadi
masalah. Pikiran seperti itu tidak salah, namun tidak setiap memiliki tingkat
ketegaran dan kekuatan yang sama. Jadi, pikirkan juga orang lain dan jangan
hanya memikirkan dari sudut pandang sendiri saja.
Intinya, kita harus sadar diri dengan
ambang kekuatan dan ketahanan diri kita. Kalau kita merasa rentan untuk panik
dan cemas, maka batasi diri. Tetapi, jika kita merasa dengan membaca berita
negatif tidak ada efeknya, ya silahkan saja.
Setelah kebijakan physical distancing
diberlakukan, sarana pendidikan dan tempat-tempat kerja pun melakukan kebijakan
LFH (Learn From Home) dan WFH (Work From Home). Namun, kebijakan
tersebut dirasa kurang efektif dan malah menambah beban pikiran dikarenakan
tugas yang menumpuk. Daripada terus-menerus bosan dan jenuh, sebaiknya kita menghabiskan
waktu dengan hal-hal yang positif. Cari kegiatan yang bisa menjaga kesehatan
fisik dan psikis kita. Kurangi informasi negatif yang bisa membuat kita panik
dan cemas dan perbanyak informasi positif yang bisa membuat kita bahagia.
Dengan belajar di rumah, kita juga bisa lebih fokus untuk belajar dan
mempersiapkan tugas akhir.
Tapi jangan salah, belajar terus menerus
juga tidak baik. Karena pada dasarnya, manusia butuh variasi dalam hidupnya.
Kita tetap membutuhkan komunikasi dengan teman-teman agar tidak merasa jenuh
dan kesepian. Walaupun hanya via daring, berbagi cerita dan keceriaan bersama
teman-teman itu perlu.
Tugas-tugas yang diberikan dosen mungkin
akan terus bertambah. Namun, jangan menjadikan tugas itu sebagai beban. Kalau
kita mengerjakannya dengan beban, maka akan semakin beratlah psikologis kita. Beban
pikiran pun bertambah. Selain karena fenomena covid-19, kita juga memikirkan
tugas kuliah dan tugas rumah dari orang tua.
Semakin kita merasa terbebani oleh suatu
hal, maka akan semakin berat beban yang dirasakan. Walaupun pada dasarnya,
tidak menutup kemungkinan bahwa beban itu tidak terlalu berat. “Apa yang
kita rasakan adalah apa yang kita pikirkan. Jika memikirkan tugas sebagai suatu
beban ya pasti akan susah untuk menyelesaikannya. Nikmati saja,” begitu
kata psikolog Agus Mulyana.
Reaksi psikologis seseorang terhadap suatu
fenomena ternyata dapat menular kepada orang lain. Lebih tepatnya dapat mempengaruhi
reaksi orang lain juga. Umpama, ada 10 orang yang sedang nongkrong bersama. Lalu
ada satu orang yang tiba-tiba teriak setelah membaca pesan whatsapp di hp-nya.
Ia teriak histeris dan tiba-tiba menangis.
Lalu bagaimana dengan 9 orang lainnya?
Mereka pasti akan kaget dan panik karena melihat satu temannya yang tiba-tiba
teriak dan menangis. Situasi akan mereda, jika ada salah satu dari 9 orang tersebut
memiliki ketahanan mental yang baik. Dia akan meredakan suasana dan menanyakan sebab
akibat satu orang temannya berteriak dan menangis.
Oleh karena itu, reaksi psikologis
terhadap suatu hal memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi reaksi prikologis
dari orang lain yang ada di sekitarnya. Jadi, dalam menyikapi fenomena Covid-19
ini dan berbagai kejadian yang terkait dengannya termasuk LFH dan WFH akan
sangat bergantung pada ketahanan mental masing-masing individu. Kita harus
sadar diri akan ketahanan mental atau psikologis diri sendiri. Kalau merasa
rentan, jangan sungkan untuk meminta bantuan dari pihak terkait. Kalau merasa
kuat, harus ingat bahwa orang lain belum tentu sekuat Anda.
Comments
Post a Comment